Bursa Asia Menguat Dekati Posisi Tertinggi dalam 10 Tahun

Koran Online

Nasional / Koran Online 43 Views comments

Pasar saham Asia menguat ke degree tertinggi dalam 10 tahun jelang akhir pekan ini, terpicu ekspektasi pertumbuhan international yang cepat.

Kenaikan tetap terjadi meskipun investor menahan laju saham, seiring penantian keluarnya knowledge ekonomi AS dan China serta kongres Partai Komunis China yang rencananya berlangsung minggu depan.

Melansir laman Reuters, indeks MSCI saham Asia Pasifik di luar Jepang naik zero,1 persen, setelah naik three,four persen sepanjang bulan ini. Sementara indeks Nikkei Jepang sedikit berubah.

Sebelumnya, Wall Road sedikit melemah didorong penurunan saham AT & T setelah perusahaan telekomunikasi ini, melaporkan penurunan jumlah pelanggan pada bisnis televisi kabelnya.

Namun, indikator MSCI's yang mencakup 47 pasar dunia mencapai rekor tertingginya, dan memperpanjang kenaikan hingga 17 persen.

Ekonomi international dinilai dalam kondisi terbaiknya dalam beberapa tahun terakhir. Harapan pemotongan pajak oleh Presiden Donald Trump menambah daya tarik.

"Meskipun kita tidak tahu rincian reformasi pajak tersebut, namun pengumuman rencana untuk melakukan perombakan pajak terbesar dalam tiga dekade memicu gelombang baru dalam perdagangan," kata Mutsumi Kagawa, Kepala Strategi International Rakuten Securities.

Dalam mata uang, dolar kehilangan beberapa tekanan dalam beberapa hari terakhir karena imbal hasil obligasi AS tampaknya telah mencapai puncaknya untuk saat ini.

Di sisi lain, harga minyak pulih dari kerugian sebelumnya, meski masih berakhir lebih rendah pada hari ini. Ini usai Departemen Energi Amerika Serikat (AS) melaporkan penurunan persediaan minyak negaranya yang lebih besar dari perkiraan.

Pasar tertekan outlook bearish Worldwide Power Company, yang menurunkan perkiraan permintaan minyak untuk 2018.

Harga minyak mentah Brent LCOc1 turun 69 sen atau 1,2 persen menjadi US$ 56,25 per barel. Sementara minyak mentah AS CLc1 berakhir turun 70 sen atau 1,four persen ke posisi US$ 50,60 per barel.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Comments