Isu Yerusalem, Sikap Donald Trump Bisa Picu Perang Dunia III?

Koran Online

Nasional / Koran Online 277 Views comments

Liputan6.com, Washington - Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Pengakuan ini juga dibarengi dengan proses pemindahan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Keputusan kontroversial Donald Trump itu memantik protes keras dari sejumlah pemimpin dunia. Mereka khawatir perang di negara-negara Timur Tengah pecah, karena Yerusalem sudah sejak lama jadi pusaran konflik. Tak hanya itu, konflik bahkan dikhawatirkan memicu Perang Dunia III.

Setelah pernyataan Donald Trump soal Yerusalem dilontarkan, sontak seluruh dunia menyesalinya. Salah satu orang yang ikut mengecam keras keputusannya adalah Perwakilan Diplomatik Palestina untuk Inggris Manuel Hassassian. Ia menuduh Donald Trump telah 'menabuh genderang perang'.

"Jika ia (Donald Trump) mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, ini menandakan solusi dua negara telah mati," kata Hassassian kepada program Radio four's Right now, seperti dikutip dari Categorical.co.uk, Kamis (7/12/2017).

"Ia mendeklarasikan perang di Timur Tengah, ia menyatakan perang melawan 1,5 miliar Muslim, melawan ratusan juta Kristiani, dan mereka yang tidak terima bahwa tempat suci itu diduduki Israel," lanjutnya.

Namun, Hassassian menambahkan, perang yang dimaksudnya adalah perang diplomasi. Dirinya tak mengacu pada perang ala militer.

"Perang yang saya maksudkan di sini bukanlah perang yang konvensional, perang yang saya maksud adalah perang dalam hal diplomasi."

Di satu sisi, diplomat Amerika Richard Haass menyebut tindakan Donald Trump itu bisa meningkatkan ketegangan di Timur Tengah.

"Mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel bukan hanya akan menggagalkan proses perdamaian, tapi juga meningkatkan ketegangan dan memicu perpecahan," cuitnya melalui akun Twitter pribadinya.

Perdana Menteri Turki Binary Yildirim menegaskan, Donald Trump berisiko membuat masalah di Timur Tengah.

Paus Fransiskus menghimbau Donald Trump untuk mempertimbangkan kembali keputusannya. Menurutnya, Donald Trump harus menghormati established order Yerusalem.

Perdana Meteri Inggris Theresa Might berencana untuk berbincang dengan Donald Trump dalam waktu dekat. Dia mencoba untuk meredakan situasi yang semakin tegang. Dia juga menyatakan bahwa Inggris tetap tak ingin mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Saat ini, standing Yerusalem tetap menjadi isu pokok dalam konflik Israel dan Palestina. Selama Perang Arab-Israel 1948, Yerusalem Barat termasuk salah satu daerah yang direbut, kemudian dianeksasi oleh Israel. Sedangkan Yerusalem Timur, termasuk Kota Lama, direbut dan dianeksasi oleh Yordania.

Israel merebut Yerusalem Timur dari Yordania pada Perang Enam Hari tahun 1967. Setelah itu menganeksasinya ke dalam Yerusalem, bersama dengan tambahan wilayah di sekitarnya.

Comments