Kisah Jasad Biksu yang Masih Utuh Setelah 30 Tahun Dimakamkan

Koran Online

Nasional / Koran Online 41 Views comments

Tubuhnya kemudian diteliti 28 tahun kemudian, bukan 30 tahun seperti yang telah ia minta. Ketika itu, angin ribut menyerang Buryatia dan warga lokal yang ketakutan berdoa padanya untuk meminta bantuan, sehingga mereka membuka kotak peti sang biarawan.

Sendinya ternyata masih lentur, kulitnya masih mempertahankan elastisitas dan space di sekitar jantungnya hangat. Orang-orang mengganti pakaiannya dan ia kemudian dikuburkan kembali. Prosedur yang sama diulang pada tahun 1973.

Pada 2002, seperti yang ia minta dalam wasiatnya, peti mati dan jasad Itigilov diteliti dan dipindahkan ke Datsan (biara) Ivolginsky dekat Ulan-Ude. Tutupnya tak dibuka malam itu, dan para biksu hanya berdoa sembari menyalakan lilin.

Pada pagi hari, seorang peneliti forensik membuka kotak tersebut dan menemukan baluran garam di pundaknya. Kepala Itigilov berada dalam kondisi yang sangat baik hingga orang mungkin menduga bahwa sang biarawan masih hidup, kata para saksi.

"Awalnya, semua orang menganggap ia adalah lelucon Buddhis Buryat, tapi kini tidak. Organ dalamnya dalam kondisi bagus, begitu pula matanya. Seorang pakar baru-baru ini datang dan mengatakan bahwa tubuhnya terlihat seperti seseorang yang baru mati beberapa jam lalu," kata Yanzhima Vasilieva, direktur Institut Pandito Hambo Lama Itigilov.

Mseki para peneliti tak berkesempatan untuk menaruh stetoskop di dada Itigilov, para biarawan sepakat mengirim dua gram sampel untuk diperiksa, termasuk rambut, partikel kulit dan dua potong kuku.

"Spektrofotometri inframerah menunjukkan bahwa sampel proteinnya memiliki karakter yang masih hidup. Saat kami memeriksa jasadnya tak ada bau seperti mayat yang membusuk," kata Viktor Zvyagin, mantan direktur identifikasi di Pusat Pemeriksaan Medis Forensik Rusia, menyimpulkan.

Namun hal ini bukan berarti sang biksu masih hidup. Analisis kulitnya menunjukkan bahwa bromin dalam tubuhnya 40 kali lebih tinggi dari angka regular dan temperatur tubuhnya 20 derajat lebih rendah, yang menunjukkan tanda-tanda kematian yang jelas.

Tak mengejutkan, para biarawan (kecuali Dalai Lama yang memilih untuk tak berkomentar) membuat klaim sebaliknya, sama seperti ribuan peziarah yang datang untuk melihat jasad Itigilov.

Apalagi, sarkofagus yang menyimpan tubuh sang biarawan mengalami kenaikan bobot sekitar dua kilogram per tahun. Dalam enam tahun terakhir, berat tubuhnya telah meningkat sekitar 10 kilogram. Kelembaban kadang muncul di tubuhnya yang menyiratkan keringat.

Para pakar percaya mereka telah menemukan penjelasan nonsupranatural. Kacang polong memiliki bromin dengan degree yang tinggi yang dapat menekan sensitivitas tubuh dan membatasi dampak stimulasi impuls eksternal, hampir tanpa memengaruhi bagian-bagian otak yang mengontrol pernapasan dan sirkulasi darah.

Ada teori yang menyebutkan bahwa saat Itigilov masih hidup, ia sengaja memakan banyak kacang polong dan dengan bantuan hipnosis-mandiri, sehingga mematikan fungsi metabolisme very important tubuhnya.

Dengan kata lain, ia melarutkan dirinya dalam meditasi yang sungguh dalam dan memasuki kondisi anabiosis. Setelah itu, ia meninggal. Garam atau jaringan kering dapat menyerap air dan memengaruhi bobot tubuh saat ia terekspos dengan udara.

Seorang biksu menunjukkan sisi spiritualitas dengan menarik mobil dengan menggunakan penisnya.

Comments